“Bedah Rumah Pohon Sawo”
Penulis : Memi Meisalina
Well, saya ucapakan Selamat Datang di rumah saya, “Rumah Pohon Sawo”
Mari kita mulai membedah rumah saya yang berlokasi di sebuah kota kecil, Cimahi.
Inilah rumah saya dilihat dari sisi jalan. Bentuk tanahnya persegi panjang dengan 2 rumah yang berada di tengah-tengah. Dahulu, waktu saya kecil saya seringkali bermain sepeda atau main apapun di tanah kosong depan rumah saya ini. Bangunan yang bertembok semen itu belum ada. Jadi tanah kosong ini sangat luas untuk anak kecil bermain. Nah, di tanah kosong ini pula dahulu berdiri 2 buah pohon buah sawo yang sangat besar. Menurut ibu saya sih, pohon ini sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Dilihat dari ukurannya memang masuk akal, karena kedua pohon itu besar sekali dan menyerupai pohon beringin. Pada musim panen sawo, keluarga saya bisa mendapatkan 3-4 karung buah sawo setiap panen, kebayang kan besarnya seperti apa? Pohon yang satu, tepat berada di gundukan pasir. Dan yang satu lagi sekarang sudah berubah menjadi bangunan bertembok semen.
Pada saat kedua pohon tersebut masih berdiri disini, saya paling malas pulang malam sendiri karena harus melewati kedua pohon itu. Beberapa kali saya mendengar suara perempuan tertawa saat saya melewati kedua pohon itu dan saya sedang sendiri. Jadi setiap pulang malam sendirian, saya selalu menutup teling saya agar terhindar dari suara tertawa perempuan yang diduga suara kuntilanak itu. Nah,teman kakak saya lain lagi ceritanya. Dia pernah melihat sosok kuntilanak itu. Saat teman kakak saya datang kerumah, (dia datang pukul 1.30 dini hari) dia melewati pohon sawo ini dan melihat kuntilanak itu sedang duduk di atas batang pohon sambil menggoyangkan kakinya ke depan dan belakang. Dan yang lebih menyebalkan, di bawah pohon tempat kuntilanak itu duduk, ada beberapa anak kecil sedang bermain-main, berlarian membentuk sebuah lingkaran. Tak lama setelah melihat “mereka” teman kakak saya mempercepat langkahya agar cepat sampai ke kamar kakak saya. Sesampainya di kamar kakak saya, ia lalu menceritakan pengalamannya kepada kakak saya, dan respon kakak saya hanya tersenyum.
Sekarang kedua pohon tersebut sudah tidak ada keberadaannya. Mereka ditebang beberapa tahun yang lalu karena kebijakan ayah saya. Saya belum tahu alasan mengapa kedua pohon tersebut ditebang. Dan bagaimana dengan “mereka” yang tinggal disana, apakah sudah mendapatkan tempat tinggal yang baru atau masih mencari tempat tinggal. Rumor yang beredar, kuntilanak penghuni pohon sawo itu pindah ke rumah tetangga saya yang letaknya tepat berada di depan rumah saya.
<Photo3>
Maju beberapa meter, inilah rumah saya tampak samping. Bangunan bertembok itu berada di sebelah kanan rumah saya (difoto ini bangunan itu tidak tertangkap). Dahulu di depan jendela, ada sebuah pohon lengkeng dan pohon mangga. Dipikir-pikir rumah saya seperti kebun, karena banyak sekali pohon, dan mungkin banyak juga yang menghuninya. Rumah saya cukup terkenal oleh masyarakat sekitar, panggilannya “Rumah Pohon Sawo”.

Beginilah keadaan rumah saya tampak dari depan. Pada tanah yang sudah dipasang paving block kotak-kotak (tepat depan meja) ada sebuah pohon delima. Ada satu pengalaman saudara saya, saat ia sedang menonton televisi dini hari ia mendengar suara auman macan. Untuk auman yang pertama, dia menghiraukannya dan mengambil tindakan dengan mengencangkan volume televisi. Setelah ada auman macan lagi, ia penasaran dari mana suara itu datang. Saat membalikkan kepalanya ke belakang, ia melihat sesosok macan sedang mengaum tepat didepan jendela yang tengah. Saudara saya kontan kaget dan langsung mematikan televisi. Setelah itu ia masuk ke kamar dan menutup dirinya dengan selimut.
Keesokan hari, saudara saya menceritakan pengalamannya tersebut kepada paman saya. Reaksi paman saya sama seperti kakak saya, dia hanya tersenyum. Lalu ia berkata “Naha teu nyaho kitu? Kan didieu emang aya maung nu ngajagaan?” (Memangnya belum tahu? Kan disini memang ada harimau yang menjaga rumah)

Ini dia, rumah kedua dalam tanah persegi panjang kami. Ini merupakan rumah ayah saya. Fotonya saya ambil tepat dari depan rumah yang pertama. Pohon yang berada di tengah foto merupakan pohon buah dewa. Sebelah kirinya ada beberapa tanaman talas. Dibelakang pohon buah dewa ada sebuah lapak tanah kecil, dulu ada pohon belimbing wuluh tumbuh subur disitu. Mari kita menelusuri lebih dalam.

Inilah rumah kedua di tanah persegi panjang kami, yang notabene pemilik rumah ini adalah ayah saya. Memang terlihat sedikit spooky. Tapi di belakang rumah ini yang lebih spooky. Mari kita kesana.

Ini adalah jalan setapak di depan rumah ayah yang akan membawa ke sebuah tempat paling spooky di rumah saya. Dulu saya sering bermain sepeda di jalan setapak ini sampai ke depan jalan. Saya paling senang bermain sepeda setelah hujan. Karena jalannya licin dan udaranya sejuk. Tapi karena jalannya licin pula saya sering jatuh dari sepeda yang tergelincir…oh iya, di tanah kosong sebelah kanan dahulu ada pohon pepaya yang tinggi sekali.

Inilah akhir dari jalan setapak di rumah saya. Dahulu di sekitar ini cukup asri dan menyenangkan. Karena pada sisi kiri jalan (tepat depan kaca rumah) ada kolam yang kecil, dimana anak-anak kecil bisa berenang disitu. Tapi sekarang sudah berubah menjadi kolam renang untuk para katak saja. Di depan kolam juga biasanya tumbuh tanaman singkong. Tapi karena sudah tidak ada yang mengurus, ya seperti inilah jadinya.
Pintu itu merupakan pintu dari daerah yang saya sebutkan tadi. Di belakang pintu tersebut kami yang tinggal di tanah ini menyebutnya “Kebon” (dalam Bahasa Indonesia artinya, Kebun). Karena dahulu di belakang pintu ini banyak sekali terdapat pohon. Tapi sekarang hanya menyisakan beberapa pohon saja. Sekarang “Kebon” kami sudah berubah menjadi sebuah kandang peternakan kelinci, kandang untuk beberapa ekor kambing, dan lahan besar untuk para ayam hidup bebas bersama para kelinci. Tetapi tetap saja kami memanggilnya “Kebon”.
Maju beberapa meter dan mari buka pintunya…

Saat membuka pintunya, ini yang akan terlihat pertama kali. Ini berada di sebelah kanan pintu. Dahulu disini merupakan tempat pabrik kerupuk. Tapi pabrik kerupuk itu sudah tidak ada. Sekarang tempat ini dijadikan tempat untuk memasak air atau membuat apapun. Memasak di tempat ini menggunakan batang pohon sebagai pengganti gas, dan biasanya digunakan saat membuat masakan yang membutuhkan waktu panjang. Disini sih saya belum pernah mendengar cerita-cerita mengenai mereka. Seperti yang terlihat di foto, tempat ini cukup gelap. Tetapi di sebelah kanan tempat inilah tempat yang selalu saya hindari dan saya tidak pernah mau melihat ke arah sana. Ini dia…

JREEEEEENGGG!!! Saya tidak pernah mampu untuk menatap foto ini lebih dari 5 detik. Bulu kuduk saya langsung berdiri dan saya akan segera menekan tombolnext untuk melanjutkan ke foto berikutnya dengan cepat-cepat. Ini merupakan toilet yang sudah lama sekali tidak dipakai. Belasan tahun toilet ini tertutup. Pada saat saya akan mengambil foto toilet ini, saya kira pintunya tertutup. Dengan percaya diri saya pergi kesana sendiri. Setelah sampai, WAKWAW. Pintunya ternyata terbuka. Saya langsung lari ke rumah depan dan meminta sepupu saya untuk mengantar saya. “Anterin atuhlah, saya mau foto-foto di kebon. Foto-foto kelinci. Please?” dan dia mau mengantar saya. Alhamdulilah.
Sampailah saya dan sepupu saya di depan toilet ini. Dengan kilat saya memfoto toilet ini dan langsung kabur pergi ke kandang kelinci. Seram.
Disinilah cerita yang menyebalkan itu. Jadi begini, paman saya waktu itu sedang memotong ilalang di “Kebon” untuk makan para kambing kami. Ditengah-tengah pekerjaannya, dia kebelet pengen pipis. Dia sudah tidak mampu untuk menahan keinginan pipisnya itu, kalau pipis di rumah depan tidak akan keburu. Dia putuskan untuk pipis di toilet ini. Dan dibukalah pintu toilet ini.
Pada saat paman saya membuka pintu toilet, dia sangat kaget. Ternyata di depannya terdapat kepala melayang tanpa tubuh, dengan mata merah melotot serta lidah yang sangat panjang menjulur dari mulut kepala melayang itu. AAARRRGGGGHHHHH! Ini cerita tentang “mereka” yang paling malas untuk dibayangkan.
Setelah itu paman saya langsung lari kedepan dan membereskan barang-barangnya, lalu dia pulang. Kalo tidak salah, setelah kejadian itu paman saya sakit panas beberapa hari. Dan toilet itu digembok oleh ayah.

Di sebelah kanan toilet terdapat beberapa pohon. Inilah pohon-pohon itu. Toilet tadi dan tempat ini menurut saya pasangan serasi. Hehehe.

Ini adalah sebuah sumur yang berada di depan toilet itu. Sumur ini masih dipakai sampai sekarang. Di depan sumur itu, terdapat sebuah pintu yang terbuat dari bamboo. Pintu ini sebagai pintu masuk kedua sebelum masuk “Kebon”.

Mari kita masuk ke “Kebon”.
Inilah “Kebon” kami. Sekarang sudah lumayan tertata, karena sebelumnya disini banyak sekali pohon dan tidak tertata. Nah, yang pake baju merah itulah sepupu saya yang menemani saya sore itu mengambil beberapa foto. Bangunan sisi kiri foto yang terbuat dari bambu adalah kandang kelinci. Sebelah kanannya adalah kandang para kambing. Tepat di belakang kandang kelinci ini, ada serumpun pohon bambu yang tumbuh subur. Maju beberapa langkah, pemandangan ini yang akan terlihat.

Di sini juga sempat menjadi taman bermain saya dan sepupu saya. Main puteran-puteran yang seperti di foto sampai main layangan.

Nah, maju beberapa meter dari arena bermain, inilah sisa “Kebon” kami. Ada beberapa pohon pisang dan pohon mangga. Lalu beberapa kelinci sedang asik bermain bersama ayam. Waktunya masuk ke dalam kandang kelinci.

Saya paling betah berada disini. Karena saya bisa melihat kelinci-kelinci. Mudah-mudahan disini ga ada “Siapa-siapa” ya, karena saya cukup sering berada disini main bersama kelinci.
Selesai dari kandang kelinci, mari kita tutup pintu kandang kelinci dan melihat ke jendela yang ada di depan kandang kelinci.
Tapi, disudut kiri kandang kelinci ini terdapat serumpun pohon bambu yang tumbuh dengan subur. Dan konondi pohon bambu itulah biasanya hantu kuntilanak itu tinggal. Entah kunti yang mana yang ada di rumah saya atau kunti-kunti lain.

Jendela ini merupakan jendela dari kamar mandi di rumah ayah. Bersebelahan dengan sumur dan berada di sudut paling belakang rumah. Jendela ini mengingatkan saya pada hari dimana saya mandi disini untuk terakhir kalinya. Hari itu, saya mandi malam (sekitar pukul 19.30). Karena saya takut untuk mandi disini, maka saya memilih cara agar tidak takut dengan menyanyi. Kata orang-orang sih tidak baik mandi sambil menyanyi di kamar mandi. Tapi mau bagaimana lagi?! Daripada saya takut, dan mandinya ga bersih maka menyanyilah saya. Baru saja saya selesai keramas, saya akan melanjutkan dengan sabunan. Tidak tahu kenapa hati saya tergelitik dan terus menerus menyuruh saya untuk melihat ke jendela. Dan menengoklah saya ke arah jendela.
Sesaat beberapa detik saya melihat ada seorang laki-laki menggunakan pakaian warna kuning sedang asik melihat saya mandi. Dia meletakkan kedua tangannya di jendela dan melihat terus ke arah saya. Saya teriak, mengambil handuk, dan lari keluar sambil menangis. Saya menceritakan apa yang saya lihat. Setelah itu ayah langsung memeriksa apakah ada pegawai dari pabrik kerupuk yang memakai pakaian kuning? Dan hasilnya tidak ada. Ya, sudahlah. Saya sedang sial saja saat itu.
Lalu kita lanjutkan ke lahan kecil seperti gang yang ada di sebelah kanan rumah bapak saya. Ini dia.

Lahan ini seperti gang bukan? Pada jendela kedua, tepat kamar orang tua saya. Suatu malam, bapak saya belum bisa tidur. Dan dia mendengar suara yg terdengar seperti ciak-ciak-ciak anak ayam disini. Bapak saya menghiraukannya. Mungkin itu kuntilanak yg sedang lewat. Pada jendela ketiga, itu adalah ruangan serba berat. Di dalam ruangan itu berisi seperti kunci, gergaji dan barang berat lainnya. Sesaat setelah mendengar ciak-ciak ayam tersebut, di ruangan barang berat ini berisik sekali. Suara yang ada seperti kunci yang jatuh sampai suara mengetok barang yang terbuat dari besi. Ayah saya sudah mulai kesal karena tidak bisa tidur. Dibukalah ruangan tersebut dan berkata “Gandeng!! aing dek sare nepika teu bisa sare. Pindah sia ka pabrik kurupuk gigireun imah aing!!”(Berisik!! Saya mau tidur sampai tidak bisa tidur. Pindah sana ke pabrik kerupuk sebelah rumah saya.) Wah, kalo masalah seperti ini Ayah saya memang juaranya. Dia tidak pernah merasa takut dengan hal-hal gaib, dan dia selalu tegas terhadap ‘mereka’.
Besok malamnya kembali terdengar suara bising seperti tadi malam, hey bukan di rumah ayah. Tapi di pabrik kerupuk sebelah rumah saya. Ayah saya “Cuma Senyum.”
Nah, dibalik pintu seng itu adalah lahan yang dipenuhi oleh tanaman talas. Seperti ini.

Rumah saya yang di depan apabila difoto dari rumah belakang seperti ini.


SOURCE:
http://www.facebook.com/note.php?note_id=164915550204209